Indonesia declared her independence in 1945?

Bukan, saya bukan mau memperdebatkan tahun Indonesia merdeka. Tapi, coba lihat lagi kata ketiga di judul. Her.

Saya menemukan kasus ini di sebuah website salah satu kementrian Indonesia.
As a dummy editor, selama ini saya selalu memakai kata it dan its untuk kata ganti sebuah negara.

Tapi, ini her.

Okay, as a dummy editor, saya wajib investigasi.

Saya buka-buka forum yang memperdebatkan kata ganti sebuah negara dalam bahasa Inggris. Ada yang setuju dengan she, ada juga yang setuju dengan it. (Mengapa he tidak diperdebatkan ya? Haha. Mungkin lain kali saya juga harus cari alasannya.)

Yang setuju dengan she beralasan, mereka menyebut tanah air dengan Motherland. Mother tentu merupakan sebuah kata feminin, jadi mereka menggunakan kata ganti she.

Di lain sisi, ada juga yang berpendapat bahwa tidak semua negara menyebut tanah airnya dengan motherland. Contohnya Jerman (kata yang mengisi forum diskusi itu). Warga Jerman menyebut tanah airnya itu dengan sebutan Fatherland. (Is this true? Waktu saya cek ke google translate, ada dua-duanya malah, das Vaterland dan das Mutterland)

Ada juga yang tidak menyebut negaranya dengan Motherland atau Fatherland. Jadinya, mereka lebih ‘aman’ menggunakan it.

Nah, untuk Indonesia mungkin kita sering dengar dengan sebutan ‘ibu pertiwi’, yang merujuk pada negara Indonesia. Mungkin itu alasan  kontributor website itu menggunakan her.
Tapi, di FAQ Chicago Manual of Style website, dikatakan:

“Never use she to refer to a country. You’ll sound as if you either don’t know English or last studied it in 1950.”

yang berarti, jangan pernah memakai kata ganti she untuk sebuah negara. Anda akan terdengar seperti tidak pernah belajar bahasa Inggris atau pernah mempelajari bahasa Inggris pada tahun 1950. Hahaha, strong words, ya? Boleh dilihat di sini kalau tidak percaya.

Saya pribadi akhirnya tetap menggunakan it saja. Tapi, khusus untuk teks-teks sastra yang memang sedang merujuk pada ‘ibu pertiwi’, I guess it’s really okay to use ‘she’, or even ‘he’. Sastra gitu loh, yekan?

Haha. Well, that’s my adventure today. See you in the next editing adventure, ya.

Wassalamualaykum.

Debs 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s